Ilmuwan: Suhu Panas Indonesia Tidak Akan Separah India

Ilmuwan: Suhu Panas Indonesia Tidak Akan Separah India

Ilmuwan: Suhu panas Indonesia tidak akan separah di India

Ilmuwan: Suhu Panas Indonesia Tidak Akan Separah India

Ilmuwan perubahan iklim Wayan Suparta mengatakan suhu panas yang melanda beberapa kota di Indonesia tidak akan separah fenomena di India.

Pasalnya, Indonesia memiliki letak geografis yang berbeda dengan India atau Pakistan.

“Gelombang panas di Indonesia karena letak geografisnya yang berada di dekat garis khatulistiwa, sehingga berbeda dengan yang ada di India atau Pakistan,” ujarnya saat dihubungi Suara.com, Senin (5/9/2022) malam.

Menurut Wayang, menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), gelombang panas atau “gelombang panas” biasanya terjadi di lintang menengah hingga tinggi seperti India, Pakistan, Eropa atau Amerika, dipicu oleh dinamika atmosfer di lintang menengah.

Baca Juga: Ilmuwan Ungkap Penyebab Suhu Panas di Indonesia Belakangan Ini

“Jadi ini berbeda dengan di Indonesia. (Fenomena suhu panas terjadi karena) gerak semu tahunan matahari terjadi akibat rotasi bumi,” katanya.

Wayan sependapat dengan BMKG dan memprediksi suhu panas Indonesia akan berlangsung dalam waktu singkat hingga pertengahan Mei.
ilustrasi musim panas. (PIxabay/Foto Gratis)
ilustrasi musim panas. (PIxabay/Foto Gratis)

Ia juga memperkirakan suhu panas tidak akan mencapai 39 derajat Celcius.

“Prakiraan suhu panas biasanya tidak sampai 39 derajat Celcius. Kalau di suatu tempat suhunya sangat tinggi, biasanya karena daerah itu padat penduduk, sirkulasi udaranya kurang, sehingga daerah itu terisolasi seperti cuaca,” kata Wayan.

Namun, pada akhir Mei lalu, Wayan tidak menutup kemungkinan suhu panas di Indonesia bisa mencapai 38,8 derajat Celcius, seperti yang terjadi di Palembang pada 2019.

Baca Juga: Ahli Bedah India Berencana Transgender Transplantasi Rahim, Bisakah Pria Secara Biologis Hamil?

“Saya kira akhir Mei bisa terjadi seperti di wilayah Tangerang Selatan. Tapi itu tidak bisa diprediksi secara pasti, banyak variabel lain yang berperan,” jelasnya.

Sumber :